Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Saya “bukan” Azhary

Dewasa ini masih banyak manusia yang menilai sesamanya dengan mengedepankan lahiriahnya. Benar atau keliru, lahiriah dan apa yang ada di dalam diri seseorang belum tentu serasi alias sama. Ya, lebih mudahnya diistilahkan dengan penampilan di mana banyak orang yang tertipu atau lebih dari itu, menggunakan penampilannya untuk menipu orang lain.

Ketika tahu dengan kenyataan tersebut, tetap saja sebagian masyarakat masih ngeyel dan terus menilai dari lahiriahnya saja. Seakan rela untuk menjadi sosok yang tertipu. Baru setelah mengetahui kenyataannya, dia komplain dan mencaci sana sini tanpa mau intropeksi diri dengan apa yang sudah ia lakukan. Lucu dan ngegemesin kan?

Ide tulisan ini muncul ketika obrolan dengan Kaka Pengar Muda (PM). Obrolan tersebut mengalir begitu saja tanpa arah dengan saling cerita masa-masa kehidupan ketika kuliah dulu.

Adapun saya bisa bertemu dengan Kaka PM tersebut karena pada hari yang sama saya bertemu dengannya dalam rangka tanda tangan kontrak penugasan sebagai PM Ak. XIII. Saya juga nggak nyangka bisa bertemu kembali dengannya setelah tes DA (Direct Assessment) beberapa minggu lalu.

Ruang tunggu tersebut pun berubah menjadi ruang bernostalgia, hingga akhirnya aliran tema yang diobrolkan pun sampai pada titik kesimpulan di mana Kaka PM ini termasuk fans beratnya Aa Gym. Salah satu buktinya adalah seringnya dia mendengarkan radio Mq FM, hatta dalam suasana Ujian Nasional. Menurutnya tema yang dibawakan Aa Gym sangat aktual dan update serta bisa dipahami dengan mudah, temasuk oleh kalangan muda. Banyak dari masyarakat yang berubah ke arah yang lebih baik setelah mendengarkan khutbah atau ceramah Aa Gym tersebut.

Namun hal lain yang disampaikan oleh Kaka PM tersebut (yang menurut saya ini lebih cenderung ke kritikan halus), adalah kurangnya dalil yang ada di tengah-tengah ceramah Aa Gym. Mudahnya, Aa Gym jarang sekali menucapkan dalil, baik dari al-Quran atau Hadis Rasulullah SAW dalam ceramahnya sehingga bagian ini sedikit disayangkan olehnya.

Nah, pas ketika mendengar bagian yang diobrolkan Kaka PM tersebut, saya pun tersenyum dan teringat dengan salah satu video yang berjudul “ Ma’a Al-Buthi” atau yang berarti “Bersama Al-Buthi” di mana video ini berjumlah sekitar 40 video yang berisi tentang prescon Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam beberapa aspek, salah satunya tentang sastra Islam.

***

Sebatas yang saya ingat, beliau menjelaskan bahwa sastra Islam itu bukan sastra yang penuh dengan istilah-istilah Islam seperti tasbih, takbir atau lain sebagainya. Bukan yang secara kasat mata menjelaskan tentang Islam dengan segala praktik ibadah di dalamnya atau penjelasan hukum fikih dan hal lainnya. Menurut beliau, sastra yang secara kasat mata langsung mendeskripsikan Islam dengan secara jelas bukan sastra islami karena daya tarik yang dimilikinya sangat kurang, khususnya untuk menarik minat para penikmat sastra dari kalangan muda-mudi.

Masih menurut Syeikh Al-Buthi, bayangkan jika dari judul buku sastranya saja sudah memperlihatkan identitas Islam, tentunya bisa dipastikan sedikit saja dari masyarakat yang tertarik untuk menyentuhnya. Malah sebaliknya kebanyakan dari mereka akan menyinyir tidak menerima. Adapun sastra Islami yang benar menurut beliau adalah sastra yang dari kasat mata tidak memperlihatkan Islam sama sekali akan tetapi dari kandungan atau isi yang disampaikan sarat dan sangat dekat dengan nilai-nilai budi pekerti, akhlak mulia dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi Islam.

Lalu, apa hubungan antara obrolan di ruang tunggu dengan penjelasan Syeikh Al-Buthi di atas? Jadi begini kawan, poin yang disampaikan Kaka PM di atas tentang tidak adanya dalil di kebanyakan ceramah Aa Gym itu menurut saya bukan kekurangan apalagi kesalahan. Itu malah jadi kelebihan dan hal positif yang dimiliki Aa.

Saya (dan tentunya Kaka PM yang dimaksud) yakin bahwa apa yang disampaikan oleh Aa Gym itu sangat berbobot. Setiap ceramah yang begitu mengalir tersebut sebenarnya adalah rangkuman hasil bacaan Aa Gym dari berbagai buku bacaan atau keadaan yang dipelajarinya yang tak terselas dengan dalil-dalil, baik al-Quran atau hadis. Dengan kelihaian merangkai kata, Aa Gym pun menyampaikan “ilmu yang kaya” tersebut kepada masyarakat secara lugas, jelas, singkat dan padat. Saya jadi teringat dengan situasi belajar-mengajar ketika di Mesir kemarin. Ketika menghadiri majlis ilmu seorang Syeikh, maka sama saja kita sudah melahap berbagai macam buku, baik yang klasik atau yang kontemporer. Wow!

Sehingga wajar banyak di antara masyarakt Indonesia, termasuk saya yang menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Aa Gym itu cenderung bermuara pada hikmah dan pelajaran yang ada di balik kehidupan. Tapi yang baru disampaikan bukan mendeskritkan ceramah atau khutbah dengan juga menyampaikan dalil-dalil ya.

Yang jelas, dengan merujuk pada apa yang disampaikan oleh Syeikh Al-Buthi di atas, ketika ceramah atau nasihat yang disampaikan itu terlepas dari penyampaian dalil tapi berbobot dan merupakan kesimpulan dari berbagai macam dalil yang ada maka ceramah tersebut akan lebih bisa diterima. Tidak eksklusif bahwa ini adalah hanya untuk Islam. Tidak cenderung memposisikan satu pihak dengan pihak pihak lainnya. Bukan kah Islam adalah rahmat untuk seluruh alam?

***

Kembali kepada inti tulisan ini, termasuk dengan saya pribadi. Sebelumnya mohon maaf jika mulai dari bagian ini cenderung “Aku” nya terlihat. Saya memaksakan diri untuk menulisnya karena penting dan banyak pihak yang mengalaminya.

Semenjak saya duduk di semester lima dan enam, saya cenderung lebih menutup profil saya sebagai orang yang pernah dan sedang “nyantri” di Univ. Al-Azhar. Meski pada waktu yang sama profil tersebut sangat jelas terlihat khususnya dikarenakan keaktifan saya dalam dunia maya. Yang jelas, ketika berkenalan dengan orang yang baru bertemu alias orang yang sebelumnya tidak kenal dan saya pribadi ingin mengawali persahabatan dengannya, saya lebih tidak menjelaskan di mana saya berkuliah. Cukup dengan nama lengkap dan asal kedatangan, Bandung. Kecuali jika sangat terdesak dan tidak bisa mengelak lagi, baru saya memberitahunya di mana saya berkuliah dengan tidak lupa tersenyum terkekeh dan terkadang sambil garuk-garuk kepala.

Saya lebih ingin berinteraksi dengan orang lain seperti di atas. Kuliah saya di mana itu tidak penting, Azhary kah saya itu nomer sekian, lulusan dari mana itu bukan prioritas, yang penting dalam berinterkasi adalah saya bisa berteman dengan banyak orang (yang baru dikenal khususnya) dengan interaksi yang sarat akan keluhuran budi pekerti dan kebaikan-kebaikan yang dijungjung tinggi Islam serta budaya dan norma yang ada. Dan kalian tahu, nilai Islam yang didakwahkan pun lebih cenderung bisa sampai dan diterima, bahkan oleh teman-teman yang Non Muslim. Saya mengalaminya looh.

Sehingga pada waktu yang sama, banyak teman yang baru mengenal saya kaget dan heran bahkan (katanya) menilai unik semenjak tahu bahwa saya pernah “nyantri” di mana. Dalam benak mereka mungkin (mungkin yaa), lulusan Timur Tengah apalagi yang masih nyantri di sana itu ya pake peci, pake baju taqwa, celana cingkrang (?), ngomongnya dzikiran, bawa tasbeh, jenggot dan brewokan (?) serta masih banyak lagi.

Lah ini? Hhaha, sangat kontras dan tidak terlihat sama sekali. Ya, ini kembali kepada yang saya sudah sampaikan sebelumnya. Di tengah banyaknya alumni Timur Tengah yang memperlihatkan identitasnya, khususnya dari segi pakaian dan intonasi ucapan bahkan pergaulan, saya berada di “sebrang” mereka. Eit, jangan sampai ada di benak kawan-kawan bahwa saya menganggap negatif yang seperti itu yaa.

Yang jelas, menurut saya pribadi, sebagaimana pesan ayah saya, kualitas diri itu harus dinomersatukan daripada identitas diri. Takut-takut ketika identitas terlalu ditonjolkan, eh malah bertolak belakang dengan kualitas yang diharapkan.

Dan terakhir ini bukan tentang tata cara menggunakan “topeng” tapi tentang “metode efektif” dalam berinteraksi. Mau mencoba? Siapa takut!?

 

26/08/16

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 30, 2016 by in Bumi Pertiwi and tagged , , , , , , .

Navigasi

%d blogger menyukai ini: