Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Jadilah Diri Sendiri ( Indonesia Mengajar Ak. XIII ) = Bag. 2 =

Pada bagian ini saya akan menceritakan perjalanan saya yang bisa dibilang gokil dan jauh dari yang diperkirakan. Cerita bagaimana saya menjalani DA atau Direct Assessment yang dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2016 di gedung IPMI, Kalibata-Jakarta Selatan. Sebelum proses DA, sebanarnya ada tahapan lain yang harus dilewati terlebih dahulu yaitu tes psikotest dan studi kasus. Kedua tes ini harus dikerjakan karena menjadi syarat keiutsertaan para kandidat pada DA selanjutnya.

  • “1” Jawab seluruh pertanyaan yang secara umum hanya memilih satu di antara dua jawaban yang ada dengan penuh konsentrasi. Ketika menjawab, jadilah dirimu sendiri dan percaya dirilah atas kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki.
  • “2” Adapun tentang studi kasus, tidak ada masukan apa-apa yang jelas untuk mengerjakannya butuh daya analisis yang kuat sehingga ketika memberikan solusi tidak gegabah dan benar-benar efektif.

Singkat cerita, hari di mana proses tahap dua pun tiba. Beberapa persyaratan sudah disiapkan seperti fotokopi ijazah dan alat tulis. Tapi naas haha, karena mungkin toledor dan tergesa-gesa ketika berangkat, pensil HB yang sudah diserut lancip itu pun tertinggal di ruang tamu. Alaaah, cape deh haha.

Karena ikut mobil saudara, saya pun turun di depan kantor yang katanya tidak jauh dari lokasoi IPMI yang ada. “Bang ojeg maaf, tolong anterin saya ke alamat ini ya,” pinta saya sambil mendekatkan hape saya ke arah abang gojeg. “Wah ini mah tinggal nyebrang ke arah sana dek,” sambil nunjuk. Ciee dipanggil adek hahaha masih muda berarti saya ya wkwk. “Gak apa-apa bang, anterin saya aja. Sekalian nyari potokopian atau toko alat tulis,” paksa saya. Tidak jauh dari gedung IPMI tersebut terdapat pasar dan meski bukan pensil HB, alhamdulillah saya dapat pensil 2B haha. Lumayan lah daripada gak ada.

Tiga orang pertama yang saya jumpai adalah Mas Faisol (ITB), Mbak Anna dan Mbak Geo (UI). “Beuh, orang-orang keren ini. Pede mi pede haha,” benak saya. Rasa percaya diri harus terus dipertahankan terkhusus memang ketika bertemu dengan orang-orang yang keren. Salah satu petugas tim rekrutmen pun datang dan memberi isyarat agar kita mengumpulkan dokumen-dokumen yang diminta seperti transkrip nilai. Ketika menunggu dimulainya tes, saya pun kembali berkenalan dengan teman baru bernama Aan asli lampung. Dia ternyata satu angkatan dengan saya, 2010 haha jurusan Matematika.

Saya tahu semua orang mungkin juga pertama kali mengikuti seleksi seperti ini sehingga mereka memiliki cara masing-masing untuk bisa beradaptasi dan berpartisipasi dengan baik dan maksimal. Tidak terkecuali dengan saya pribadi, di mana dengan jurus “melihat apa yang orang lain kerjakan,” saya pun menjalani seleksi. Jurus tersebut bagaimana, jadi begini kawan-kawan, sebelum melakukan sesuatu saya selalu melihat orang lain terlebih dahulu bagaimana dan seperti apa yang dilakukan mereka. Alhamdulillah cara ini berjalan lancar. Tapi tetap jurus ini bukan menganjurkan kita-kita untuk menjadi orang lain, hanya untuk jaga-jaga biar tidak melakukan sesuatu yang konyol haha.

Sebelum masuk ke proses seleksi, saya dan para peserta semua masuk ke dalam ruangan dan mendengarkan beberapa poin penting tentang Indonesia Mengajar dari salah satu Pengajar Muda. Salah satu inti yang bisa disimpulkan adalah bahwa kita pergi ke pelosok negeri bukan hanya mengajar akan tetapi juga melakukan hal-hal lainnya sehingga membuat masyarakat pedalaman tersebut memiliki rasa percaya diri dan optimis untuk bermimpi serta berusaha untuk meraihnya.

Yoo .. Seleksi pun dimulai, tahapan pertama adalah TPA, Tes Potensi Akademik. Untuk tahapan pertama ini, saya benar-benar tidak mempersiapkan sedikit pun. Selain karena tahapan ini baru diterapkan pada seleksi PM XIII juga saya nya nggak merhatiin email yang dikirim tim rekrutmen hhaha. Hadeuuh.

  • “3” Jumlah soal TPA sebanyak 60 harus dikerjakan selama satu jam. Jadi penggunaan waktu dengan sebaik mungkin adalah cara yang harus dilakukan. Jadi jika ada soal yang sulit khususnya tentang hitungan lebih baik dilewat dan lanjut ke soal selanjutnya. Masalahnya jangan sampai kita menghabiskan waktu dalam menghitung untuk mencari jawaban.

Berkaitan dengan poin 3 di atas, pengalaman saya kemarin, melihat soal aritmatika saya tertawa dalam hati. Soalnya bahaya kalau ketawa keras bisa ganggu teman-teman yang lain hahaha. Pasalnya, selama enam tahun ke belakang saya tak ada hubungan atau membaca sedikit pun tentang matematika. Butek lah pokoknya mah haha. Sekitar sembilan soal tentang aritmatika pun saya loncat dan lanjut ke soal-soal lainnya yang menurut saya bisa dikerjakan.

“Adinda, kamu bisa tadi soal-soalnya?” Tanya saya kepada orang keren lulusan sastra Jerman tersebut. “Lo juga kurang bisa yah? Gua juga gak nyangka ada TPA,” jawab dia sambil berusaha membawa Hape yang ada di tasnya. Haha, nggak apa-apa lah ternyata ada juga yang senasib dan pas saya tanyakan ke teman-teman lain juga hampir sama jawabannya. Hahaha 😀 Berbeda mungkin dengan Aan yang lulusan matematika, soal-soal yang kayak gitu mah bagi dia kayak cemilan haha.

Setelah semua kertas jawaban dikumpulkan, Kaka PM yang tadi awal menjelaskan tentang Indonesia Mengajar kembali ke tengah-tengah kami dan membagi kami menjadi empat kelompok. Saya satu kelompok dengan Faisol, Geo, Sarita, Putri dan Ica. Jadi setelah tes TPA ini, kita akan menjalani tes-tes selanjutnya bersama grup yang telah ditentukan. Setiap grup pun berbeda-beda dalam urutan tesnya, kebetulan grup saya urutan tes setelah TPA adalah FGD (Focus Group Discussion).

Okeh kita masuk ke tahap FGD. FGD ini dilakukan selama 60 menit. 20 menit secara individual, 35 menit secara grup dan 5 menit adalah waktu akhir untuk menentukan kesepakatan yang di mana voting adalah sesuatu yang dilarang haha. Ketika itu kita diberi sebuah permasalahan yang umum menurut saya lalu diberi 6 poin solusi beserta pertimbangan-pertimbangannya. Lalu tugas kita adalah memilih 1 poin yang harus diprioritaskan beserta alasan dan pendapat kenapa poin tersebut dipilih.

20 menit tidak terasa dan akhirnya saya beserta lima teman lainnya berjalan menuju ruangan kecil yang di sana sudah ada dua orang yang menunggu atau lebih tepatnya dua asesor. Kami duduk di meja bundar dan melingkar. Setelah mendengar penjelasan dan “cara main” FGD dari dua asesor tersebut, kami pun memulai 35 menit diskusi. Cukup alot dan semua orang memiliki pendapatnya masing-masing. Ada tiga pendapat atau ide yang saya ingat dan memberikan kemudahan dalam berdiskusi tersebut. Pertama, ide untuk tidak membahas apa yang tidak kita prioritaskan. Kedua, cara dan waktu penyampaian pendapat untuk setiap anggota diskusi yaitu melingkar dan hanya satu sampai dua menit saja. Dilakukan agar tidak ada pihak yang memonopoli pembicaraan. Ketiga, adanya notulis yang mencatat semua apa yang ada terlebih khusus menulis kesimpulan yang diambil.

Alhamdulillah dengan ide dan masukan tersebut serta aktifnya semua anggota diskusi, kesimpulan pun bisa diambil dengan cara mufakat dan dalam waktu yang pas dengan berakhirnya waktu diskusi. Salut buat tim ini dan bersyukur bisa berdiskusi dengan mereka haha.

  • “4” Ada beberapa poin yang mungkin bisa dilakukan ketika FGD ini. Untuk memisahkan antara satu poin dengan poin lainnya, saya gunakan tanda “|” okeeeh haha. Tentunya harus menghargai pendapat orang lain yaa, khususnya terhadap pendapat yang berbeda. | Jangan terlalu memonopoli pembicaraan selama diskusi. | Aktif-seaktifnya tapi jangan lebai. | Pendapat yang disampaikan harus fokus dan tidak melebar. | Intinya jadi diri sendiri dan jangan canggung ketika menyampaikan pendapat.

Ketika kami semua keluar, kami tertawa lepas dan kembali bersalaman. Sepertinya kami semakin akrab, bahkan ada yang meminta maaf, takut ketika berdiskusi ada kata-kata yang tidak pas di hati hhe. Ketika berjalan kembali ke ruangan utama, kami kembali mengobrol dan tentunya lebih pribadi. Mulai dari nama, asal daerah dan almamater masing-masing. Setelah saling tanya-menanya, kami pun sepakat untuk berharap semoga setelah ini adalah tes pesikotes grafis, gambar-gambar 😀 hahaha. Biar adem ini otak setelah diskusi panjang lebar.

Tapi tak disangka, tes selanjutnya yang kami jalani adalah micro teaching atau simulasi mengajar.

Bersambuuuunnggg hahaha 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 14, 2016 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: