Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Meneladani dan Diteladani

Habib Jufri dalam bukunya Al-Insaniah Wa Al-Tadayyun menyebutkan bahwa pemuda bukan hanya sekedar aset negara yang sangat penting untuk keberlangsungannya di masa depan, tetapi juga merupakan aset penting untuk agama khususnya dalam ranah dakwah. Baik buruknya para pemuda menjadi tanggungjawab kita semua sebagai pihak yang hidup bersama mereka. Sehingga jika mereka ternyata berperangai buruk, maka hal pertama yang dilakukan bukan menyalahkan apalagi mencaci mereka tetapi lihatlah diri kita terlebih dahulu, apakah kita sudah menjadi sosok yang baik? Apakah kita sudah mengayomi mereka? Apakah kita sudah memberi contoh yang baik bagi mereka? 

Oleh karena itu, Syeikh Ramadhan Al-Buthi berpendapat, bahwa perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para pemuda sejatinya bukan dari para pemuda itu sendiri tetapi dari lingkungan dan orang-orang yang di dalamnya yang tidak bisa mendidik mereka menjadi sosok yang baik. “Baik buruknya karakter pemuda adalah cerminan dari baik buruknya sebuah lingkungan,” tulis beliau dalam bukunya yang berjudul >.
Terlebih di zaman modern ini, faktor-faktor yang membuat mereka menyimpang pun semakin banyak. Mulai dari bahan bacaan hingga jenis hiburan, seakan tidak terlepas dari usaha untuk merusak karakter para pemuda. Sehingga jika kita tidak mengambil peran sebagai pembawa perbaikan bagi mereka atau malah sebaliknya, menjadi pihak yang acuh maka jangan salah kan siapa-siapa jika di masa depan nanti akan muncul beberapa kerusakan atau perilaku yang jauh dari akhlak mulia yang datang dari mereka.
Kita semua tentu bertanya-tanya, apa solusi kongkrit untuk hal di atas? Solusinya banyak, salah satunya adalah melalui pendidikan. Namun pendidikan pun ternyata sudah banyak oknum dan penyimpangan yang akhirnya tidak benar-benar bisa melahirkan generasi yang terdidik. Sehingga kita pun kembali bertanya, pendidikan yang seperti apa? 
Jika dibaca detail, jawabannya sebenarnya sudah disinggung di awal, yaitu dengan menjadi sosok yang mampu meneladani dan layak diteladani. Semua proses mendidik khususnya tentang budi pekerti dilaksanakan melalui keteladanan. Meski kenyataannya memang sulit dilakukan tetapi jika kita benar-benar mau melakukannya maka jalan keluar akan selalu ada.
Semua sosok yang layak diteladani, kita teladani. Semua kerusakan dan keburukan yang ada di lingkungan sosial, kita perbaiki dengan aksi nyata berupa contoh konkrit yang sarat dengan keteladanan. Sehingga pada akhirnya, orang-orang pun akan teralihkan dan mungkin terdorong untuk berubah dan mengikuti apa yang kita contohkan. Ya, bukan zamannya lagi kita berkoar-koar di media sosial apalagi mencaci dan bahkan memfitnah beberapa pihak yang sebenarnya hanya memperkeruh keadaan yang ada. 
Terlebih jika kita lihat karakter masyarakat Indonesia yang cenderung suka meniru, proses meneladani dan diteladani diharapkan lebih mudah untuk dipraktikkan. Buktinya banyak, di antara budaya kita khususnya dalam ranah berpakaian hampir merupakan hasil dari proses meniru dari budaya orang lain. 
Oleh karena itu, tentunya kita jangan menyia-nyiakan kesempatan ini sehingga kita pun tinggal menentukan apa atau siapa yang layak diteladani dan bagaimana menjadi pihak yang bisa diteladani. Kita perkenalkan beberapa sosok pahlawan atau tokoh Indonesia yang karakter dan riwayat hidupnya layak dicontoh khususnya oleh para pemuda.
Alangkah baik dan indahnya kita pun termasuk dari usaha tersebut karena tentunya kita pun tidak ingin menjadi sosok yang hanya tahu teori ini tanpa mempraktikkan dengan aksi nyata. Coba bayangkan jika orang-orang khususnya keluarga di sekeliling kita terpengaruh oleh karakter kita, lalu setiap anggota keluarga ini pun menjadi sosok teladan di tempat kerja atau sekolah masing-masing, lalu keteladanan ini pun mempengaruhi orang-orang yang lingkungannya lebih luas sehingga pada akhirnya masyarakat secara keseluruhan pun dipenuhi sosok-sosok yang mampu meneladani dan layak diteladani. Jika seperti ini, bukan hal yang mustahil Indonesia pun akan menjadi negara yang layak dicontoh oleh negara-negara lainnya.
Tapi tetap ide ini harus diiringi dengan aksi yang konkrit karena jika tidak, maka ia akan menguap dan akhirnya hilang tanpa meninggalkan pengaruh apa pun. Mari kita mulai dari sendiri, jika menjadi sosok yang diteladani belum mampu maka dengan menjadi sosok baik yang meneladani orang lain yang kayak diteladani adalah lebih dari cukup. Berharap, dengan seperti ini kita pun pada akhirnya mampu dinilai sebagai sosok yang diteladani. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 17, 2016 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: