Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Beruntungnya Punya Adik Perempuan

Berbicara tentang keberuntungan berarti berbicara tentang sesuatu yg relatif, yaitu kebahagiaan. Dalam kitab ‘Idzah Nasyiin, sesuatu yang bisa membuat seseorang bahagia, belum tentu membuat orang lain bahagia. Tergantung dari pribadi masing-masing dalam menanggapi dan menghadapinya.

Mempunyai adik, khususnya adik perempuan bisa dikategorikan sebagai sumber kebahagiaan. Ya meski termasuk ke dalam hal yang relatif, tapi dalam masalah ini sedikit orang yang sedih atau menyesal karenanya.

Khususnya bagi saya sendiri, di mana masih ingat, masa kecil dulu saya tidak terlepas dari adik saya sendiri. Di mana saya ikut serta mengasuh dan memeliharanya. Sehingga bisa dikatakan, salah satu saksi hidup yang melihat bagaimana pertumbuhan dan perubahan yang terjadi dalam diri adik saya adalah saya sendiri. Masih kuat dalam ingatan saya bagaimana saya menggendong adik saya kala saya bermain “petakumpet” dengan teman-teman saya.

Kebahagiaan yang diraih mungkin dikarenakan karena kewajiban untuk menjaga yang bisa terpenuhi. Atau mungkin -yang sederhananya atau kekanak-kanakannya- datang karena ketika itu saya dan siapa saja yang berposisi sebagai kakak bisa memperlihatkan dirinya sebagai pelindung. Siapa saja yang berani mengganggu sang adik, maka akan mendapatkan masalah yang besar.

hm

Namun jika dipikirkan lebih dalam lagi, memang benar “sifat pelindung” yang terlihat dari sang kakak untuk adiknya adalah sesuatu yang mencolok. Dan mungkin termasuk salah satu hikmah keberadaan sang kakak di sisi sang adik.

Saya pribadi merasakannya, terlebih ketika jarak mulai memisahkan saya dari adik perempuan saya. Proses melindungi seakan terkikis. Mulai saat itu hanya doa yang bisa saya panjatkan, semoga adik saya tersebut selalu dalam kebaikan dan perlindungan Allah. Setiap mendengar kabarnya, baik atau buruk maka hal tersebut akan menjadi sebuah hal yang prioritas dalam pikiran saya. Apalagi kalau berkaitan dengan sebuah “masalah,” tentu meski jarak memisahkan, saya berusaha untuk memberi sebuah solusi.

Termasuk jika yang datang adalah hal yang negatif, tentunya saya pun tidak mengiyakan dan berusaha untuk menasihati meski dalam hal ini memang tidak selalu terang-terangan. Apalagi tentang seorang lelaki asing yang berusaha mendekat. Tentu masalah ini tak perlu dijelaskan karena dampak negatifnya sudah menjadi “makanan” setiap hari.

Ya, kita semua tahu yang namanya perempuan adalah makhluk perasa, sehingga dalam menasihati pun harus tetap hati-hati dan harus memakai trik khusus. Mungkin termasuk dengan kehadiran “anak pertama” sy, sedikit banyak nasihat yang ada di dalamnya ditujukan kepada adik perempuan saya.

Karena jarak yang memisahkan, tentunya saya mencari cara bagaimana saya bisa “tetap” melakukan hal yang positif kepada adik perempuan saya. Salah satunya melakukan kebaikan kepada seluruh kawan perempuan saya sebagaimana saya melakukannya seakan adik saya berada di hadapan saya. Dan ini menurut saya termasuk keberuntungan dalam memiliki adik perempuan.

Juga dalam melakukan sesuatu yang negatif. Terkadang ketika ingin melakukan hal yang negatif, saya selalu menilai terlebih dahulu, apakah saya ridla jika ada seorang lelaki melakukan hal yang sama terhadap adik saya? Jika memang tidak baik, tentu saya urungkan. Kurang lebih hal ini sebagaimana tentang hadis Rasulullah SAW dalam menasihati seorang sahabat yang ingin melakukan hal terlarang terhadap seorang perempuan. Masih ingat kan? Di mana ketika itu Rasulullah SAW memintanya untuk mempertimbangkan, bagaimana jika hal yang dilarang tersebut terjadi kepada ibu, bibi dan saudara perempuannya? Pada akhirnya ia pun mengurungkannya.

Terlebih saat ini, kenyataan yang saya hadapi adalah sebagian teman atau adik tingkat saya berasal dari golongan perempuan. Apa yang dijelaskan sering terjadi dan tentunya saat saya berhasil melakukannya, itu merupakan keberuntungan yang patut disyukuri.

hm 1

Saya pun sering “panas” jika ada teman perempuan saya yang menjadi bual-bualan atau bahan candaan. Tidak perlu saya sebutkan contohnya bagaimana, karena hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, terlebih yang berkaitan dengan lawan jenisnya: Laki-laki.

Yang jelas banyak mungkin yang menilai bahwa hal tersebut menunjukkan kalau saya “panas” karena cemburu atau karena modus atau hal negatif lainnya. Saya tidak terlalu “ambil pusing,” karena landasan saya melakukan dan merasakannya adalah apa yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Lebih jelasnya, coba bayangkan jika hal negatif tersebut terjadi kepada adik perempuan kita, apakah kita akan membiarkannya? Tentu tidak dong, kita bakal ngambil tindakan. Ya, bukan hanya sekedar perasaan “panas” saja. Tapi karena hal tersebut terjadi pada teman perempuan, perasaan panas dan sikap tidak menyetujui adalah tindakan yang lebih dari cukup.

Semoga siapa saja yang memiliki posisi seorang kakak bisa melaksanakan kewajibannya, salah satunya melindungi dan siapa saja yang memilik posisi adik mendapatkan haknya, salah satunya terlindungi. Aamiin 🙂
16/04/16

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 22, 2016 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: