Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Nulis di Indonesia bikin Pragmatis?

Dalam dunia tulis-menulis, pertanyaan bagaimana cara mudah menulis atau tentang langkah-langkah menjadi penulis itu memang sudah menjadi lagu lama. Setiap seminar tentang dunia intelektual tersebut diadakan, setiap itu pula pertanyaan yang sejenis terlontarkan.

Hal tersebut tentunya bagus dan baik karena menunjukkan minat dan kecenderungan masyarakat yang masih ada dalam ranah positif. Bagaimana tidak? Menulis adalah aktifitas mulia, selain memelihara maklumat atau kenangan, juga seperti yang dikatakan banyak orang, mampu menjadi sarana untuk mencerdaskan dan menyehatkan otak. Jadi jika ada seseorang yang bertanya seperti itu, maka dia telah berusaha untuk mendekatkan diri dengan sumber kebaikan. Menyibukkan diri dengan kebaikan, siapa yang tak mau?

Namun coba kita amati dan cermati lebih dalam lagi, sebenernya pertanyaan tersebut bukan hal yang seharusnya dilontarkan. Kenapa seperti itu? Karena aktifitas menulis bukan lah suatu tujuan yang harus diperjuangkan atau diraih, akan tetapi lebih dari itu, yaitu merupakan sesuatu yang kedudukannya sama dengan nasi atau air minum. Singkatnya adalah sebuah kebutuhan.

Mungkin terdengar terlalu berani, tetapi kenyataannya sebagaimana yang dirasakan sebagian orang di luar sana memang seperti itu. Agar apa yang kita pelajari, kita baca, kita hafal tetap bertahan adalah salah satunya dengan dituliskan. Terlebih jika yang ditulis berkaitan dengan ilmu yang didapat secara talaqi atau sorogan.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa ilmu itu seperti binatang buruan dan tulisan seperti tali pengikat. Nah sebagaimana orang-orang yang sering mencari hewan buruan, tali baginya adalah sebuah kebutuhan bahkan kewajiban guna dibawa ketika waktu berburu. Kalau tali buat berburu lupa dibawa, maka hewan yang berhasil ia dapat kemungkinan bisa kabur.

Begitu pun dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari atau didapat dari sebuah majlis ilmu. Bahkan lebih lincah dari hewan buruan di mana sedikit saja kita lalai, maka kita akan melupakan dan akhirnya hilang. Oleh karena itu, agar ilmu yang lincah sangat tersebut tidak hilang maka harus diikat dengan sebuah tulisan. Ya, satu-satunya cara adalah dengan menulis.

Jika mulai detik ini. mindset kita meyakini hal di atas maka sudut pandang kita terhadap kegiatan tulis menulis adalah seperti sudut pandang kita terhadap air. Bagaimana rasanya jika dalam sehari tidak minum? Tentu akan menimbulkan rasa haus atau bahkan rasa sakit. Begitu pun dengan menulis, dalam jangka waktu yang cukup lama maka kita akan merasakan kesakitan kalau kita tidak menulis. Indah bukan? “Hah, indah?” Iya indah, hahaha.

Seiring waktu berjalan, dunia penulisan ini (sepertinya) kehilangan jati dirinya sebagai aktifitas mulia. Mungkin sebagian kecil saja yang merasakannya karena memang dunia penulisan itu untuk dewasa ini cenderung lahan basah alias bisnis. Ini hanya untuk sebagian orang saja karena masih banyak di luar sana yang menulis dengan dasar keikhlasan atau hanya demi menebar manfaat di tengah-tengah masyarakat.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Ini kembali kepada banyaknya penerbit yang memberi syarat kepada para calon penulisnya untuk menulis sesuatu yang diminati pasar. Ya, jika naskah buku yang diajukan terlihat tidak diminati maka akan ditolak, meski dalam waktu yang sama naskah tersebut benar-benar berguna dan baik untuk dibaca.

Jadi yang dikedepankan adalah minat masyarakat, bukan manfaat bagi masyarakat. Kita pun tentu sepakat apa yang diminati oleh orang-orang tidak selamanya bermanfaat bagi mereka. Iya kan? Kesimpulannya, kalau mau nulis, ya yang bisa dijual. Pragmatis banget gak sih? Hal seperti ini memang susah untuk dihilangkan atau diubah karena sudah lama terpendam di benak banyak orang, khususnya pihak penerbit.

Salah satunya cara untuk menghindari hal negatif yang ada di balik “kebiasaan” buruk dunia kepenulisan di Indonesia tersebut adalah dengan mencari tema yang bermanfaat sekaligus diminati oleh masyarakat. Karena yang namanya keikhlasan memang hal sulit untuk dipertahankan, sehingga membutuhkan usaha yang lebih.

Jadi harus dua kali berpikir, apa sih yang bermanfaat untuk masyarakat? Karena pertimbangan poin ini sangat penting demi terjaganya keikhlasan yang selalu kita harapkan keberadaannya. Lalu setelah menemukan hal yang bermanfaat, apakah hal tersebut diminati banyak orang? Siapa kah kira-kira yang akan menjadi penikmat tulisan-tulisan tersebut? Ini penting agar unsr kebaikan dan manfaat yang ada di balik tema tulisan tersebut bisa tersebar dan banyak orang yang membaca tentunya serta bisa diterima oleh salah satu penerbit yang ada di Indonesia.

Namun bagi siapa pun yang idealisnya sangat tinggi, mau diterima atau tidak oleh salah satu penerbit di Indonesia, tentunya dia akan terus berkarya. Toh mungkin tidak bisa dinikmati oleh banyak orang tetapi hanya untuk diri dan saudara atau teman di sekitarnya. Terlebih jika memang menulis itu adalah kebutuhan seperti yang dijelaskan di atas, pasti tak ada sesuatu pun yang bisa menghalanginya dari tulis menulis, termasuk ketidakberadaan pembaca.

Apakah kamu termasuk dari mereka? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 10, 2016 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: