Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Tiga Jam Bersama Bu Risma

ibu risma

Jumat (18/03) malam kemarin menjadi malam yang istimewa bagi mahasiswa Indonesia di Mesir. Pasalnya, kami diberi kesempatan untk menjadi penjamu dari tamu yang agung dan spesial. Sosok yang gerak-geriknya selalu mengundang decak kagum, terkenal sebagai sosok yang “talk more and do more” dalam ranah positif tentunya, sosok yang setiap perkara yang dilakukannya adalah demi terselesaikan amanah yang ia emban, sosok yang tahu memosisikan diri baik sebagai hamba yang memiliki kuasa dan hamba yang selalu mengedepankan asa. Siapa dia? Itu namanya udah ditulis di judul 😀

Sebelum lanjut lebih jauh, artikel sederhana ini sengaja diberi judul seperti di atas karena memang kenyataannya seperti itu. Sebagian hadirin mungkin merasakan apa yang saya rasakan bahwa tak ada sedikit pun sesi dialog meski memang di background tertulis besar kalimat “dialog kebangsaan.” Terlebih dengan tema yang diusung seputar implementasi nilai-nilai Islam di Indonesia, hanya sedikit perbincangan tentang hal yang menarik tersebut. Itu pun hanya isyarat yang bisa disimpulkan oleh sebagian hadirin saja.

Meski demikian, kita semua yang hadir tentu beruntung karena bisa mendengarkan langsung bagaimana Ibu Risma berbicara dan memotivasi. Apalagi bagi mereka yang tidak kebagian duduk, pasti terasa sangat (yaa terasa pake bangeet hha). Khususnya dari wejangan-wejangan beliau yang memang secara tidak langsung menyihir kita semua untuk kembali memikirkan apa yang akan kita hadiahkan untuk bangsa kita, Indonesia?

Sebagai salah satu dari para hadirin, saya bisa menyimpulkan beberapa hal:

1. Kita semua harus kembali mencari tahu arti kata dialog. Ya, kita semua tanpa terkecuali termasuk pemilik blog ini. Apa itu dialog, bagaimana kegiatan tersebut berjalan, apa saja yang harus disiapkan dan lain sebagainya sehingga kegiatan dialog yang sederhananya merupakan proses diskusi dua arah ini bisa terlaksana. Jika masih seperti tadi malam, apalagi ada isyarat ke kegiatan “promosi” lebih baik kegiatannya diberi nama seperti judul tulisan sederhana ini.

2. Apapun yang kita lakukan terhadap sesama manusia tentu akan dimintai pertanggungjawabannya. Apalagi diamanahi sebuah kepemimpinan, tentu semakin banyak yang diurus semakin besar amanah yang diemban. Ibu Risma adalah sosok yang memelihara tali kehidupan tersebut. Bahkan bukan hanya menjaga tetapi mengeratkan simpulnya hingga kokoh. Terlihat jelas bagaimana beliau berkata, “Belum lagi hewan-hewan berupa ikan-ikan, kucing dan lain sebagainya …” Hewan saja beliau perhatikan apalagi masyarakat yang sering beliau sebuatkan dengan penuh canda jika ada hak mereka yang terlalaikan, “Mereka tuh anak orang looh, jangan salah…”

3. Kebaikan yang dilakukan bersama-sama lebih baik daripada dilakukan sendiri (aghlabiah nyaa). Contohnya shalat fardlu, tentu berjamaah lebih baik dari pada shalat sendiri. Dalam kesempatan emas tersebut pun Ibu Risma memberi nasihat untuk kita bersatu. Sudah saatnya kita untuk tidak membicarakan perbedaan, akan tetapi lebih mengedepankan persamaan sehingga kita lebih kuat dalam melangkah dan lebih yakin dalam meraih apa yang dicitakan. Ibu Risma menekankan, “Kita meningkatkan kebersamaan, bukan perbedaan!”

Satu hal yang bisa dijadikan sebagai pemersatu yaitu kebangsaan Indonesia. Ya cukup dengan kata Indonesia, kita semua bisa maju dan melakukan banyak hal positif khususnya untuk kemajuan ibu pertiwi tersebut. “Satu saja bisa mempengaruhi banyak orang. Apalagi kalian yang jumlahnya lumayan banyak, tentu Indonesia akan semakin kuat.”

4. Yang dibutuhkan dari seorang pemimpin adalah pertama, perasaan bahwa jabatan bukan sesuatu yang diraih atas usaha atau perjuangan akan tetapi merupakan karunia. Barangsiapa yang mendapatkan karunia tersebut, secara tidak langsung dia dipercaya bahwa dia memang sosok yang pas untuk mengemban amanah tersebut. Kedua, langkah dan usaha kongkrit harus selalu diprioritaskan. Bukan hanya kata-kata. Ketiga, amanah sebagai pemimpin adalah amanah yang sulit dan bukan hal yang sepele. Ibu Risma adalah sosok yang berbeda dengan mereka yang merasa “enak” dengan jabatan sebagai pemimpin. Dari perasaan amanah yang berat tersebut lah, seorang pemimpin akan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat-masyarakat yang ada. Keempat, memiliki perasaan simpati dan empati khususnya sesama manusia. Kelima, harus berani menanggung resiko di balik aksi atau yang dilakukan.

5. Jangan memilki mindset “hidup bagaimana enaknya” akan tetapi milikilah mindset “hidup bagaimana baiknya.

6. “Kesempatan tidak akan datang dua kali.” Poin ini muncul karena proses tanya jawab yang dilkukan pada acara malam yang meiah tersebut. Karena memang dari awal saya menunggu proses dialognya dan ternyata tidak ada, termasuk pada sesi tanya jawab. Sebagai manusia biasa, saya sedikit kesal akan tetapi bagaimana lagi. Terlebih dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya satu dari enam pertanyaan yang saya nilai berkulitas.

Inilah mengapa poin enam ini diawali kalimat yang tak asing tersebut. Semestinya para penanya itu tahu bagaimana langkanya kesempatan bertanya, terlebih karena yang ditanya adalah sosok yang inspiratif dan tak semua hadirin bisa bertanya. Artinya, bisa jadi petanyaan yang akan diajukan oleh orang lain lebih berkulitas sehingga mau tidak mau siapa yang diberi kesempatan bertanya oleh moderator harus bertanya dengan pertanyaan yang baik dan bisa membuat hadirin yang lain istifadah. Ini mah malah … Ah sudahlah xD

Sehingga ada salah satu kawan yang memberi masukan untuk menyeting pertanyaan-perntanyaan yang diajukan. Artinya panitia mengumpulkan semua pertanyaan dari para hadirin sebelum acara dimulai lalu dipilih mana pertanyaan yang berkualitas dan diajukan kepada nara sumber yang ada.

Tentunya, apa pun yang terjadi kita harus syukuri karena dalam hal yang tidak baik pun terselip kebaikan. Terserah kita, apakah mau mencari atau melewatkannya begitu saja. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada malam yang cerah tersebut. Kemauan untuk bertanya pun muncul disebabkan petanyaan-pertanyaan yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Di balik pertanyaan tersebut pun, saya berharap adanya proses dialog. Akan tetapi apa daya, saya tak mendapatkan kesempatan emas tersebut meski sudah angkat tangan dan botol agar terlihat lebih tinggi plus sambil bilang, “Bang Gobe…” (Hahaha, biasa moderatornya emang sobat saya hahaha).

Sependek pengetahuan saya, yang namanya kecemerlangan dalam kepemimpinan itu anget-anget tai ayam. Maka di sini lah pentingnya regenerasi karena tentunya masyarakat semua ingin akan sosok-sosok seperti Ibu Risma lah yang terus memimpin. Dari hal sederhana tersebut, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya ke Ibu, saya bertanya, “Apa langkah kongkrit yang Ibu Risma lakukan agar muncul dari masyarakat-masyarakat Surabaya khususnya dan Indonesia umumnya, sosok-sosok yang karakter kepemimpinannya seperti ibu? Apa Ibu akan mendirikan Risma Fantasi atau Maharini Akademi atau hal lainnya. Terima kasih.”

Semoga kita semua bisa memetik hikmah dari nasihat-nasihat Ibu yang sukanya naik gunung tersebut khususnya dan dari proses berjalannya acara secara umumnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 20, 2016 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: