Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Prolog “Anak Kedua”

galang-press-penerbit-buku-masakan-hingga-filsafat

Menanam Kebaikan

Segala puji dan kebaikan kita panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kasih sayang-Nya, bumi merasakan kehangatan matahari yang lembut, semua makhluk berinteraksi dengan penuh kasih dan tentunya membuat seseorang mampu berkorban demi (si)apa yang disayanginya.

Shalawat berbingkai salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sosok yang semua gerak-geriknya memancarkan kasih dan cinta Allah SWT. Sosok yang tak ada siapa pun yang bisa menandingi kelembutannya. Sosok yang dengan kemuliaannya membuat siapa saja rindu walau tak pernah bertemu, yaitu kekasih kita semua Nabi Muhammad SAW.

Apa yang ada di dalam benak kita jika disebutkan kata pernikahan? Salah satu hal yang mungkin terbesit adalah terikatnya dua insan yang sudah saling mencintai sehingga selanjutnya mereka mampu membuktikan cinta tersebut melalui sebuah perbuatan dan tentunya pengorbanan.

Apalagi dewasa ini yang banyak sekali buku atau motivator yang mengajak kaum muda untuk “menyegerakan” pernikahan. Hal ini tentu bagus karena secara tidak langsung sudah mendukung akan terlaksananya salah satu sunah Rasulullah SAW.

Akan tetapi sayangnya sebagian buku dan motivasi tersebut tidak diiringi dengan nasihat atau langkah kongkrit dalam menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Di mana sebagaimana yang kita ketahui, proses memantaskan diri agar siap mengarungi gelombang kehidupan setelah pernikahan sama pentingnya dengan proses memantaskan diri untuk menjadi sosok yang layak melaksanakan ibadah mulia tersebut.

Untuk melengkapi khazanah intelektual tentang cinta dan pernikahan serta menyelamatkan kawan-kawan dari “cinta” yang semu, saya pribadi terdorong untuk menulis satu poin yang mungkin banyak orang melupakannya, yaitu sebuah amanah yang ada di balik proses pernikahan tersebut.

“Seperti apa sih amanah yang dimaksud di atas?” Pertanyaan ini bisa dijawab setelah mengetahui hubungan antara tiga sabda Rasulullah SAW tentang pernikahan. Untuk hadis yang pertama, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian sudah mampu (dalam menafkahi) maka menikahlah karena ia sangat mampu menundukkan pandanga dan menjaga kesucian…” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Lalu di kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda, “Nikahilah perempuan yang memiliki kebaikan yang banyak dan (bisa) melahirkan banyak keturunan…” (HR. Abu Daud). Terakhir adalah hadis yang menjelaskan bagaimana bangganya Rasulullah SAW ketika hari kiamat kelak terhadap banyaknya umat beliau, “Saling Menikahlah kalian sehingga (jumlah) kalian banyak. Sesungguhnya pada hari kiamat, aku akan membanggakan kalian (di hadapan) umat-umat (lainnya).” (HR. Ibnu Majah).

Jika kita perhatikan baik-baik, ketiga hadis tersebut memiliki hubungan yang erat, di mana salah satu hikmah kenapa kita dianjurkan untuk menikah adalah untuk memiliki keturunan. Bahkan bukan hanya memiliki keturunan saja, tetapi juga diisyaratkan untuk memiliki keturunan yang banyak karena di hari kiamat nanti Rasulullah SAW akan berbangga dengan jumlah umat beliau yang banyak.

Pertanyaannya, apakah Rasulullah SAW akan bangga dengan keturunan kita yang jauh dari dzikir? Yang sering lalai dengan segala kewajiban apalagi perkara Sunah? Yang tidak pernah merasakan kenikmatan berdiri di sepertiga malam terakhir? Tentu jawabannya tidak.

Nah dari sini kita bisa mengambil kesimpulan plus menjawab pertanyaan di atas, bahwa pernikahan adalah sebuah amanah karena siapa pun yang berani melangkah untuk melaksanakan ibadah tersebut maka dalam waktu yang sama ia dan pasangannya akan memikul sebuah amanah untuk mewujudkan hal yang telah disinggung, yaitu melahirkan generasi yang dicintai Rasulullah SAW.

Generasi yang paham mengapa mereka dilahirkan dan ke arah mana mereka harus berjalan. Generasi yang benar-benar dibanggakan Rasulullah SAW kelak pada hari kiamat dengan kesalihan dan keluhuran budi pekertinya. Generasi yang tegar dengan segala bentuk cobaan yang semakin hari semakin kuat mengikis keimanan.

Saya yakin jika setiap pemuda(i) memahami amanah tersebut, maka mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak asal melangkah dalam menjalankan ibadah mulia tersebut. Oleh karena itu, buku “Teeeeeeeeeet” ini hadir untuk sama-sama mengajak dan membantu merealisasikan amanah yang ada di balik ibadah tersebut.

Bukan kah kualitas masyarakat tergantung dari baik buruknya kualitas keluarga-keluarga yang ada di dalamnya? Lalu kebaikan keluarga tersebut ditentukan oleh anggota keluarga itu sendiri, sehingga secara tidak lansung siapa saja yang berusaha memperbaiki dan menyiapkan diri untuk melaksanakan pernikahan, maka sama saja telah ikut serta dalam membentuk lingkungan masyarakat yang baik dan berkualitas.

Bukan perkara yang mudah tapi jangan sampai membuat kita menyerah. Begitu pun dengan proses penulisan buku ini. Jangankan proses, di awal untuk memulainya saja banyak pihak yang meragukannya. Terlebih kata mereka apa yang dibahas buku ini tidak sesuai dengan keadaan yang sedang penulis alami: Masih bujang.

Menurut mereka buku ini cocok ditulis setelah saya benar-benar mempraktikkannya. “Mempraktikkan apa?” Ya apalagi kalau bukan nikah? Bahkan sebagian kawan ada yang bilang jika direaslisasikan proyek penulisan buku ini maka dikhawatirkan akan termasuk ke dalam perbuatan munafik.

“Waduh, serem amat euy,” tanggap saya sederhana dan penuh canda. Lalu saya mencoba untuk menjelaskan bahwa para da’I yang berceramah tentang kematian pun, apakah mereka harus mati dulu? Jawabannya tentu tidak. Termasuk proses penulisan buku ini, tentu saya tidak diharuskan untuk mempraktikkannya terlebih dahulu kan?

Ditambah dalam pandangan saya, ketika menulis pada masa bujang menjadikan tulisan di dalam buku ini menggunakan sudut pandang pembelajar yang akan masuk ke dalam “medang perang.” Berbeda jika setelah melaksanakannya maka sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang pengalaman. Terkadang hasil pembelajaran lebih baik daripada pengalaman karena cenderung adanya fase persiapan diri.

Hal di atas terbukti ketika hari ke-20 dari proses penulisan naskah. Di mana saya merasa beruntung bisa diberi kesempatan untuk menulis tema ini karena poin-poin yang dijelaskan, sebenarnya harus diketahui jauh-jauh hari sebelum melaksanakan proses pernikahan, bukan setelahnya.

Sehingga pendapat-pendapat teman yang meragukan sebelumnya, lama-lama terkikis dan hilang digantikan dengan sebuah keyakinan bahwa nilai-nilai kebaikan ini harus benar-benar diketahui, umumnya untuk orang-orang yang telah menikah dan khususnya untuk yang masih melajang atau membujang.

Kita tentu tahu buah kan? Buah yang manis tentu berasal dari benih yang bagus dan melalui proses perawatan yang sangat baik dan apik. Begitu pun dengan generasi setelah kita. Mereka tidak mungkin menjadi sosok yang memiliki budi pekerti yang baik jika orang tua atau yang telah mendahului mereka masih jauh dari nilai agama dan norma masyarakat.

Sehingga buku ini tidak hanya fokus pada penggemblengan karakter si buah hati saja, tetapi mencakup seluruh aspek yang mampu mendukung munculnya generasi penerus yang diharapkan dan dibanggakan Rasulullah SAW tersebut. Ya, bagaimana mungkin muncul generasi yang dicintai Rasulullah SAW, jika pihak yang menjadi orang tuanya belum menjadi sosok seperti yang diharapkan?

Secara garis besar buku ini terbagi menjadi lima bagian besar. Pertama, bersama-sama kita akan memahami poin-poin penting yang ada di dalam buku ini secara umum. Di antaranya pentingnya rumah yang menjadi lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter dan prilaku seorang anak. Kedua, karena menikah adalah ibadah maka agar lebih afdhal kita akan mempelajari proses pernikahan tersebut dari kaca mata ilmu fikih. Semua akan dibahas mulai dari dalil penyariatan hingga hikmah atau tujuan di balik ibadah mulia tersebut.

Ketiga, mencakup beberapa hal tentang jodoh atau sosok yang akan menjadi partner dalam melaksanakan amanah pernikahan. Ya, bukan kah generasi yang baik berasal dari insan-insan yang baik pula? Maka dari itu bagian ini fokus membahas bagaimana sih menjadi sosok yang layak untuk melaksanakan ibadah tersebut?

Keempat, secara umum akan membahas tentang beberapa hal yang membuat pasangan suami-istri mampu menciptakan suasana rumah yang sakinah, mawadah dan rahmah. Hal tersebut salah satunya dengan meneladani sosok yang paling romantis kepada istrinya dan paling sayang terhadap keluarganya, yaitu Rasulullah SAW. Di sisi lain hal tersebut sangat penting karena mendukung terciptanya lingkungan rumah yang kondusif dalam pembentukan karakter si buah hati.

Terakhir, bisa dikatakan pembahasan inti dari penyusunan buku ini. Setelah mengetahui banyak hal, mulai dari ibadah pernikahan yang ditinjau oleh kaca mata ilmu fikih hingga alasan mengapa interaksi suami istri itu harus romantis, maka pada bagian ini kita akan membahas bagaimana membentuk generasi unggulan yang diharapkan tersebut. Banyak hal yang dibahas di mana semuanya terfokus pada pendidikan karakter si buah hati, di antaranya mendidik mereka dari sisi agama dan akhlaknya.

Syukur dan puji terpanjatkan atas segala nikmat dan rahmat Allah. Juga terima kasih kepada guru-guru, ayah-ibu, adik-adik, kawan-kawan dan semua pihak yang sudah mendukung terselesaikannya buku ini. Semoga dengan hadirnya buku ini bisa memotivasi seluruh lapisan masyarakat, baik yang belum atau sudah menikah sehingga sadar akan amanah mulia tersebut, yaitu membangun generasi unggul yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

 

Distrik Tujuh, 24 Januari 2016

Hilmy Mubarok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 29, 2016 by in Tarian Jariku.
%d blogger menyukai ini: