Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Pernikahan dan Sebuah Amanah

Banyak orang yang mengira bahwa pernikahan itu hanya sekedar berkaitan dengan namanya cinta. Jika ada dua orang yang melaksanakan akad nikah tersebut maka berarti mereka sudah menyatukan cinta mereka berdua. Bahkan sebagian orang lain berpendapat bahwa pernikahan hanya sekedar untuk memuaskan keinginan pribadi, ini yang sangat disayangkan.

“Sebenarnya apa sih jawaban pas untuk pertanyaan tentang tujuan pernikahan?” Dalam agama Islam, pernikahan itu merupakan ibadah di mana syarat dan rukunnya sudah dijelaskan begitu dalam. Lalu syarat dan rukun tersebut diikat dengan sebuah tujuan yang begitu mulia.

Oleh karena itu, baik buruknya tujuan menikah tergantung apakah syarat dan rukun pernikahan tersebut terpenuhi atau tidak. Tentunya kita tak usah membahas tujuan pernikahan jika ternyata proses pernikahannya saja sudah jauh atau tidak sesuai dengan syarat dan rukun sebagaimana disyariatkan agama Islam. Bahkan hal tersebut bisa dikategorikan sebagai perbuatan zina yang terlarang.

Ya, pernikahan bukan hal sepele yang sekedar mengikat hubungan antara dua orang saja, tetapi merupakan hal yang suci. Banyak hal yang harus diperhatikan. Selain syarat dan rukun pernikahan juga beberapa hal yang berkaitan dengan keberlangsungan ikatan tersebut.

Karena sebagaimana yang kita tahu, sebuah bahtera tidak mungkin berlayar lama tanpa perbekalan makanan yang mencukupi atau keterampilan dalam mencari makan yang baik. Di sisi lain pernikahan juga bukan hanya menyatukan dua orang saja, tetapi menyatukan dua keluarga secara menyeluruh dan hal ini tentunya membutuhkan persiapan dan keterampilan khusus.

Suatu hari Rasulullah SAW bersabda, “Saling menikahlah kalian maka kalian akan (memiliki) banyak (keturunan). Sesungguhnya aku akan berbangga dengan (jumlah) kalian pada hari kiamat,” (HR. Abu Daud dan Al-Nasai). Dengan dasar hadis ini maka salah satu tujuan menikah adalah untuk memiliki keturunan. Bahkan dalam hadis tersebut terdapat isyarat sebuah anjuran untuk memiliki keturunan yang banyak.

Namun apakah memiliki keturunan yang banyak saja? Tentu tidak karena kelanjutan hadis tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah SAW akan bangga. Secara logika, tidak mungkin Rasulullah SAW berbangga dengan keturunan kita yang jauh dari shalat, yang tidak pernah bersedekah, tidak memiliki akhlak yang mulia dan lain sebagainya.

Tentunya Rasulullah SAW hanya akan berbangga dengan umat beliau yang bertaqwa kepada Allah dan memiliki akhlak yang mulia. Hal ini tentunya menjadi amanah suci bagi siapa saja yang ingin masuk ke dalam gerbang pernikahan.

Jika hukum logika di atas tidak terpenuhi maka pernikahan yang dilaksanakan tentu tidak ada pengaruh positif apa pun. Bahkan meski syarat dan rukun pernikahannya sesuai dan terpenuhi tapi tidak diikat dengan tujuan yang sudah diisyaratkan di atas maka pernikahannya adalah hal yang sia-sia.

Oleh karena itu, ketika sebuah pernikahan sesuai dengan syarat dan rukun yang disyariatkan, lalu dilaksanakan setelah pertimbangan yang jeli dan matang, kemudian diikat dengan sebuah tujuan berupa amanah dalam membentuk karakter keturunan yang dicintai Allah SWT dan Rasul-Nya, maka pernikahan tersebut bisa dikategorikan dalam pernikahan yang berkualitas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 3, 2016 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: