Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Tafsir Sufi Ayat Haji

Tarian Sufi

Tarian Sufi

Sebagaimana yang diketahui bahwa penafsiran Al-Quran bisa berbeda-beda tergantung kecondongan atau kemampuan seorang mufasir itu sendiri. Ulama yang berkonsentrasi dalam bidang fikih, maka ia akan menjelaskan ayat Al-Quran tersebut dari segi fikihnya. Ulama yang berkonsentrasi dalam bahasa, maka ia lebih berkonsentrasi dalam penafsirannya terhadap hal-hal yang berbau bahasa, seperti hubungan antar ayat, unsur balaghi pada sebuah ayat, pemakaian kaidah nahwu dalam sebuah ayat dan lain sebagainya.

Begitu pun dengan para Ulama yang lebih terkenal dari kesufiannya. Mereka pun –dengan sebuah kaidah bahwa ayat Al-Quran memiliki makna secara jelas dan makna secara batin- menafsirkan dan mencoba menemukan makna-makna lain yang terkandung pada sebuah ayat yang terkadang cenderung jauh dari makna atau tujuan ayat tersebut. Oleh karena itu, sebagian Ulama yang berkonsentrasi dalam ilmu tafsir dan Al-Quran menolak penafsiran yang dikenal sebagai “Al-Tafsir Al-Bathiny/Al-Tafsir As-Shûfi” dan sebagian lain mencoba untuk menganalisanya dan mencoba untuk menemukan beberapa syarat agar jenis penafsiran tersebut bisa diterima.

Perbedaan di antara ulama tersebut kembali kepada perkembangan metode penafsiran tersebut. Seiring waktu berjalan, penafsiran sufi terbagi menjadi dua, yaitu penafsiran sufi nadzari dan penafsiran sufi isyary. Penafsiran sufi nadzari ini banyak dilakukan oleh para filosof yang di mana secara prakteknya mereka membuat beberapa premis terlebih dahulu kemudian menggunakannya untuk menafsirkan ayat Al-Quran. Artinya mereka memaksa untuk menyeseuaikan ayat Al-Quran dengan premis mereka yang di mana masih cenderung memiliki kekurangan, bahkan tidak sesuai dengan maksud Al-Quran itu sendiri.

Selain ditolak karena hal di atas, penafsiran sufi nadzari tidak menjadikan Al-Quran sebagai sumber hidayah yang harus kita perhatikan dan laksanakan. Hal tersebut karena mereka hanya mengamalkan premis-premis mereka saja tanpa melirik sedikit pun terhadap makna yang dikandung oleh sebuah ayat. Dengan kata lain mengedepankan ijtihad mereka dari pada kandungan Al-Quran.

Sedangkan penafsiran sufi isyari tidak membuat beberapa premis untuk manfsirkan Al-Quran, namun mereka langsung menafsirkan Al-Quran dengan apa yang mereka dapatkan dari isyarat hati atau pikiran yang dirasakan. Husen Adz-Dzahabi dalam salah satu bukunya menuliskan bahwa penafsiran sufi isyary merupakan usaha sebagian ulama dalam menakwilkan batin ayat Al-Quran dengan beberapa isyarat hati atau pikiran atau menggabungkannya dengan pentakwilan ayat Al-Quran secara dzahir.

Dapat disimpulkan bahwa maksud penolakan sebagian Ulama terhadap penafsiran sufi adalah yang termasuk penafsiran sufi nadzari yang dipimpin oleh Ibnu ‘Araby. Sedangkan penafsiran sufi Isyari, sebagian besar Ulama menerimanya dengan alasan bahwa para sahabat Nabi Saw. pun pernah melakukannya. Salah satunya Ibnu ‘Abbas ketika ditanya tentang kandungan surat An-Nashr. Ia menafsirkan dengan penafsiran dari segi kandungan batin ayat-ayat tersebut, bahwa surat tersebut menunjukkan ajal Rasulullah Saw. yang tak lama lagi akan datang, maka bertasbihlan dan beristighfarlah.

Di kesempatan lain, Ibnu Abbas berkata bahwa ayat-ayat Al-Quran memiliki makna batin dan makna dari segi dzahir. Hal ini mampu menambah kemukjizatan Al-Quran sehingga maknanya tidak akan pernah habis dan akan selalu bisa dipahami dengan penafsiran-penafsiran lain yang baru dan pada akhirnya kandungan Al-Quran akan terus berlaku di mana pun dan sampai kapan pun.

Selain itu, para Ulama pun memberikan beberapa isyarat terhadap metode penafsiran tersebut, di antaranya tidak melenceng jauh dari makna tulisan Al-Quran itu sendiri, harus memiliki saksi yang menguatkannya, tidak bertentangan dengan syari’at dan hukum logika (akal), tidak bertentengan dengan kaidah bahasa Arab, tidak meyakini bahwa penafsiran sufi tersebut merupakan satu-satunya penafsiran yang benar, tidak melaksanakan penafsiran tersebut sembari meninggalkan penasiran yang jelas dari ayat tersebut.

Setelah mengetahui definisi, jenis-jenis, syarat-syarat penafsiran sufi serta beberapa pendapat Ulama di dalamnya, tulisan ini mencoba menafsirkan ayat-ayat haji dengan metode penafsiran tersebut. Secara umum memang sangat jauh dari apa yang dimaksud ayat, tetapi penafsirannya cenderung berkaitan tentang tasawuf dan penyucian jiwa.

Seluruh ayat haji yang ada di dalam Al-Quran hampir memiliki penafsiran bahwa ibadah haji dibagi menjadi dua macam, ibadah haji yang dilakukan secara lazimnya dan ibadah haji yang dilakukan oleh hati. Haji jenis pertama mengunjungi baitullah (ka’bah) untuk beribadah, sedangkan haji jenis kedua yaitu menyerahkan hati kita kepada Rabb  Al-Bait, sekaligus menyaksikan-Nya. Keduanya sungguh berbeda.

Barangsiapa yang berhaji dengan jenis ibadah haji yang pertama, mereka memakai kain ihram untuk melaksanakan rentetan kegiatan manasiknya. Sedangkan jenis kedua untuk menyaksikan zat Allah. Selain itu, pelaksanaan ibadah haji jenis pertama diwajibkan untuk meninggalkan segala hal yang haram dan yang dapat membatalkan ibadah hajinya. Sedangkan yang kedua, mengharamkan dirinya dari hasrat-hasrat yang ditunjukkan kepada selain-Nya.

Selain itu dalam melaksanakan haji, kita dituntut untuk melepaskan diri dari segala hal yang bersifat duniawi. Ketika kita bersuci, maka kita harus menyucikan diri dari segala dosa dengan sifat malu dan menjaga marwah diri kita. Ketika melepas pakaian dan menggantinya dengan pakaian ihram, maka kita pun melepaskan pakaian akhlak buruk yang selalu kita pakai dalam kehidupan kita.

Ketika lisan kita mengucapkan talbiah, maka jangan sampai ada satu bulu pun yang ada di atas tubuh kita, kecuali ia telah bersaksi akan kebesaran Allah Ta’ala. Ketika berwukuf di Arofah, maka kita pun harus mampu meletakkan hati kita untuk selalu ridha kepada Allah. Ketika tiba di Masy’ar  Al-Haram, maka kita pun harus mampu melupakan diri kita sendiri dan pikiran kita diperkuhususkan untuk mengingat Allah.

Ketika sampai ke Mina, maka kita pun harus menghilangkan segala keinginan duniawi, angan-angan serta syahwatnya. Ketika melontar jumroh, maka kita pun yakin bahwa kita juga sedang melemparkan segala hasrat duniawi kita. ketika melaksanakan kurban, kita pun yakin bahwa kita sedang menyembelih hawa nafsu kita dengan tujuan untuk lebih dekat kepada Allah. Ketika melaksanakan sa’yi antara shafa dan marwa, kita pun berusaha untuk selalu menyucikan diri (shafa’) dari segala keburukan.

Ibadah haji jenis kedua yang disebutkan di atas juga memiliki waktu-waktu tertentu untuk dilaksanakan. Hal ini sebagaimana firman Allah yang menyinggung waktu pelaksanaan ibadah haji jenis pertama. “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang dimaklumi (ditentukan)” (QS. Al-Baqarah [2]: 197). Adapun waktu tersebut adalah waktu muda. Barangsiapa yang tidak memanfaatkan waktu mudanya untuk melaksanakan ibadah haji yang dimaksud, maka ia telah menyia-nyiakan karunia Allah yang sangat berharga tersebut dan tentu ia tidak akan bisa melaksanakan ibadah haji tersebut sebagaimana ibadah haji jenis pertama yang hanya bisa dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu, yaitu Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah.

Sebelum melangkah ke penjelasan tentang syarat rukun Islam kelima tersebut, kita perlu tahu alasan mengapa tempat pelaksanaan ibadah tersebut dinamai dengan kata Mekah atau bakah dalam salah satu ayat Al-Baqarah. Hal tersebut selain berasal dari lisan Nabi Ibrahim As., juga karena  merupakan tempat berkumpulnya banyak orang yang melaksanakan thawaf, juga karena setiap orang berusaha untuk sampai menuju ke tempat tersebut.

Ka’bah atau mungkin dikenal juga dengan baitullah tentu milik Allah yang di mana pernah berfirman, “Kesombongan adalah sorbanku dan keagungan adalah kainku.” Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin datang ke sana guna melaksanakan ibadah Haji, dianjurkan baginya terlebih dulu untuk menghilangkan rasa kesombongan dan ujub yang berada pada dirinya.

Adapun salah satu syarat melaksanakan haji adalah mampu dari segi keuangan, alias kaya. Dan syarat kaya adalah tidak menimbun harta benda di dalam rumahnya, begitu pun sebaliknya syarat fakir adalah tidak adanya rasa hawa nafsu di dalam diri. Oleh karena itu, banyak dari kita yang berpendapat bahwa haji itu harus mampu, baik dari segi materi atau diri (kesehatan), dan ini sah-sah saja.

Namun banyak yang melupakan kemampuan (untuk berangkat haji) dengan ketentuan Allah. Artinya, tidak sedikit dari kita yang ia tidak memiliki harta, kesehariannya dilalui dengan penyakit dan tidak memiliki waktu luang karena sibuk tapi tetap bisa melaksanakan ibadah haji. Hal ini kembali ke kekuasaan Allah yang jika Allah mengkehendaki maka akan terjadi.

Dikatakan pula bahwa menunaikan haji di baitullah hanya wajib bagi mereka yang mampu, khususnya yang memiliki harta. Namun sebenarnya juga wajib bagi mereka yang fakir miskin untuk melaksanakan haji, yaitu dengan mengunjungi Pemilik baitullah dengan menyerahkan diri kepada-Nya.

Pada akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa dua jenis ibadah haji di atas sebenarnya bisa digabungkan. Artinya bagi siapa saja yang melaksanakan haji, maka dianjurkan baginya juga untuk mengiringi setiap pelaksanaan ibadah manasik dengan hadirnya hati dan tentu rasa ikhlas. Sehingga mampu melaksanakan dua jenis ibadah tersebut secara bersamaan. Wallahu A’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 29, 2014 by in Bumi Para Nabi.
%d blogger menyukai ini: