Heartbeat of Life

“Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib)

Urgensi Pemuda Qur’ani dan Perannya Terhadap Pembangunan Bangsa (Versi Kumplit)

ujian A. Pendahuluan

Kebanyakan masyarakat saat ini resah dengan perilaku para pemuda yang ugal-ugalan,khususnya mereka yang aktif di geng-geng motor yang kerap bukan hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga membahayakan nyawa masyarakat.Sehingga sebagian dari masyarakat menyimpan rasa sinis kepada mereka dan cenderung menjauh terhadap pemuda-pemuda yang terikat dengan kegiatan geng tersebut. Hal ini wajar dan manusiawi, namun lain halnya jika penilaian tersebut terlalu menggeneralisir. Artinya penilaian buruk di kaca masyarakat terjadi kepada setiap individu pemuda.

Padahal di luar sana, banyak pemuda-pemudi yang aktif di dalam sebuah komunitas dan berkontribusi positif terhadap masyarakat khususnya dan bangsa secara umum. Jika masyarakat mampu membedakan antara keduanya, maka akan terjadi timbal balik positif terhadap mereka sendiri. Karena dengan penilaian yang adil seperti itu, pemuda yang berbakti akan terus semangat dan konsisten dalam kegiatan positifnya serta pemuda yang aktif di komunitas yang buruk, seperti geng motor akan terpengaruhi dan tesadarkan bahwa yang dilakukan mereka adalah salah.

Lain halnya jika sikap masyarakat yang sinis berlebihan tersebut terus dipertahankan, maka akan mempengaruhi konsistensi pemuda yang aktif di kegiatan positif, karena selalu merasa dicurigai dan pemuda yang aktif di geng-geng, akan semakin brutal, karena kita tahu bahwa sifat mereka salah satunya tidak ingiin diatur oleh sebuah sistem atau cenderung menginginkan kebebasan.

Selain itu, masyarakat pun harus paham akan apa yang dimiliki oleh pemuda, khususnya mereka yang punya andil di dalam kegiatan positif. Karena maju mundurnya sebuah komunitas –bangsa, salah satunya tegantung sumbangsih para pemuda.Contohnya kemerdekaan yang diraih oleh Negara kita, Indonesia. Jika bukan karena peran para pemuda, maka Indonesia tidak akan memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 yang lalu.

Oleh karena itu, tulisan ini mencoba untuk menjelaskan eksistensi dan potensi positif yang dimiliki oleh para pemuda dan sedikit mengupas kiat-kiat agar para pemuda tersebut mampu mengeluarkan potensi-potensi yang dimiliki mereka, serta pentingnya pemuda yang berkarakter al-Quran dalam pembangunan bangsa.

B. Definisi Pemuda

Definisi pemuda bisa ditinjau dari beberapa segi dan dalam mendefinisikannya pun akan berkaitan dengan kata kedewasaan. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi online, definisi pemuda cenderung dilihat dari segi usia, yaitu orang yang masih muda atau orang muda. Sedangkan di dalam KBBI edisi kedua (1955), definisi pemuda sama dengan remaja, yaitu seseorang yang sudah dewasa dan sudah sampai usia untuk kawin.

Hal di atas senada dengan perspektif WHO (World Health Organiation).Organisasi internasional tersebut mendefinisikan, bahwa seseorang dikatakan pemuda yaitu ketika berumur antara antara 10 sampai 24 tahun.Sedangkan United Nations General Assembly mendefinisikan pemuda sebagai individu yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Definisi dari UNGA sama dengan definisi yang dimiliki World Bank. AdapunNational Highway Traffic Administration memberikan batasan pemuda dengan usia antara 15 sampai 29 tahun.

Adapun dari segi biologis ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki dan haid bagi perempuan serta perubahan bentuk fisik, baik bagi laki-laki dan perempuan.Namun kenyataannya, banyak dari kalangan pemuda mengaku sudah dewasa karena umurnya yang sudah sampai pada angka tersebut.Padahal kedewasaan bukan hanya dinilai dari bertambahnya umur, tetapi terlebih dari berkembangnya pola pikir yang semakin matang, sehingga mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Maka dari itu, jika ada pemuda, bahkan orang tua yang masih tidak bertanggung jawab atau tidak menepati janji yang disepakati, maka ia belum bisa dikatakan dewasa. Pepatah mengatakan, “tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”

Sedangkan ditinjau dari faktor psikologis, pemuda adalah fase di mana seseorang lebih cenderung bersikap arogan, tidak mau kalah, penuh insiatif, kreatif, optimis, berani dan lain sebagainya. Seperti halnya dengan apa yang disampaikan oleh ilmuan Barat, Princeton, bahwa pemuda atau youth, merupakan fase kematangan bagi seseorang dalam berfikir, betindak dan memutuskan suatu perkara.

Oleh karena itu, pemuda memiliki beberapa kelebihan dari anak kecil dan para orang tua, salah satunya kematangan dalam segi fisik. Dr. Yusuf al-Qardhawi dalm sebuah bukunya, menganalogikan usia muda dengan matahari ketika pukul 12.00, yaitu di mana matahari tersebut sedang bersinar paling terang dan paling panas.

Oleh karena itu, pemuda bisa dikatakan sebagai aset Negara yang memiliki potensi-potensi positif, sehingga mampu memberikan kontribusi agar Negara tersebut mampu terus berkembang ke arah yang lebih baik.Maka tidak salah Sang Proklamator, Ir. Soekarno pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia.”

C. Pemuda dan Indonesia

Pemuda yang merupakan the leader of tomorrow mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa.Sejarah mencatat, banyak Negara yang mendapatkan kemerdekaannya berkat eksistensi dan kontribusi positif yang dilakukan para pemuda, salah satunya Indonesia.Semenjak pengusiran penjajah Belanda hingga hari proklamasi 17 Agustus 1945 tidak terlepas dari peran para pemuda. Seakan-akan mereka menjadi motor penggerak kebangkitan bangsa yang kita cintai ini. Bahkan hingga detik ini pun kita masih menjumpai para pemuda yang aktif dalam bekotribusi positif terhadap pembangunan, baik melalui pendidikan, bisnis dan sebagainya.

Gerakan Budi Utomo pada 1908 telah menyerukan paham persatuan dan kesatuan pada masyarakat awam agar bangsa Indonesia menjadi sebuah kesatuan dan tidak terpetakan dalam ras, suku, agama, dan lain-lain. Gerakan pemuda yang tak kalah kontributif, yaitu pada tahun 1928 yang dimotori oleh pelajar Indonesia di Belanda yang membentuk Kongres Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dan akhirnya berhasil membuahkan sumpah pemuda.

Prestasi besar pemuda selanjutnya ketika proklamisasi kemerdekaan Indonesia.Mereka mempunya andil besar di dalamnya. Jika tidak ada dorongan moral dan moril dari kalangan mereka, maka bangsa Indonesia tidak akan memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 silam. Hal ini terlihat bagaimana pertentangan mereka dengan golongan tua dalam menentukan waktu deklarasi kemerdekaan kala itu.

Para pemuda dengan segala potensinya terus bersinergi memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan bangsa.Pada masa revolusi, orde lama, ode baru, refosmasi dan sampai saat ini, semuanya tidak terlepas dari peran para pemuda. Para pemuda dengan pola pikir yang matang, kritis, berani dan visioner mampu berpikir dan bertindak terhadap hal-hal yang tidak bisa dipikirkan atau dikerjakan oleh kalangan lain. Analogi ringannya, jika kalangan anak-anak berpikir tentang hari esok apa yang harus disiapkan, maka kalangan pemuda sudah memikirkan untuk hari lusa.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda apakah akan membiarkan dan tidak meneruskan pejuangan yang sudah dibangun sejak dulu? Apakah kita akan berdiam diri dengan tidak berkontribusi terhadap pembangunan bangsa? Apakah kita akan memungkiri segala potensi yang ada di  dalam diri kita? Tentu saja tidak.Kita sebagai penerus perjuangan bangsa tentunya harus mengoptimalkan segala potensi yang kita miliki serta diiringi dengan landasan moral dan spirit intelektual. Sehingga apa yang dihasilkan merupakan gerakan-gerakan solutif, bukan gerakan yang arnaki dan berbau desdruktif serta jauh dari makna pembaharuan dan pembagunan.

D. Reaktualisasi Pemuda Qur’ani

Jika kembali mengaca sejarah yang tadi disebutkan, maka hal tersebut tidak terlepas dari pemuda yang bukan hanya mengabdi pada bangsa saja, tetapi juga mengabdi pada Tuhannya Yang Maha Esa.Pengabdian yang dilakukan terhadap Allah, secara tidak langsung membuat para pemuda tersebut memiliki karakter yang sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya, salah satunya peduli dengan lingkungan. Budi Utomo, Moh. Hatta, Ir. Soekarno dan para pemuda lainnya termasuk ke dalam jenis pemuda tersebut.Kita pun sebagai penerus perjuangan mereka harus tetap menjaga dan meneruskan perjuangan mereka, tentunya dengan metode yang sesuai dengan ajaran Islam.

Demi terbentuknya generasi pemuda yang berkarakter al-Quran atau pemuda Qur’ani, alangkah baiknya kita melihat kaca mata Islam dalam memandang eksistensi pemuda, khususnya masa muda sebagai fase di mana seseorang mencapai kematangan dalam segala aspek.

  1. Pemuda Dalam Perspektif Islam

Pemuda merupakan ujung tombak perjuangan dalam Islam, baik itu ketika masa dakwah secara sembunyi-sembunyi atau pun secara terang-terangan. Islam tanpa para pemuda di dalamnya, mungkin tidak akan pernah sampai ajarannya ke seluruh dunia secara merata, bahkan ke luar Jazirah Arab pun tidak akan pernah. Namun sejarah membuktikan bahwa tersebarnya ajaran Islam tidak terlepas dari peran para pemuda di dalamnya.

Di antara pemuda yang berkontribusi terhadap dakwah ajaran Islam yaitu, Ja’far bin Abi Thalib dengan usia 18 tahun, Qudaamah bin Abi Mazh’un berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia dibawah 20 tahun, ‘Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mush’ab bin ‘Umair dan Al Miqdad bin al Aswad berusia 24 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Umar bin al Khathab 26 tahun dan banyak lagi pemuda-pemuda dari kalangan sahabat.

Ada sebuah kisah nyata inspiratif yang diperankan oleh Ali bin Abi Thalib muda ketika ia diajak untuk memeluk ajaran Islam. Kisah tersebut menunjukkan kematangan seorang pemuda dalam berfikir dan memutuskan sebuah perkara.Ketika ingin memenuhi ajakan mulia tersebut, Ali sengaja pergi kepada orang tuanya untuk meminta kepada mereka agar diizinkan untuk memeluk agama Islam. Namun ia urungkan niat tersebut seraya berkata, “Allah saja tidak pernah meminta izin pada orang tuaku untuk melahirkanku ke alam dunia.” Ia pun masuk Islam tanpa meminta izin pada orang tuanya.

Islam pun membenarkan bahwa pemuda memiliki kelebihan dari segi kekuatan, baik itu fisik atau pun dalam bersiasat. Seperti apa yang dilakukan Rasulullah Saw., ketika mengutus Usamah bin Zaid yang berusia 18 tahun sebagai pemimpin pasukan kaum Muslimin untuk menyerbu wilayah Syam. Padahal di antara prajuritnya terdapat sahabat-sahabat yang lebih tua daripada Usamah, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab dan para sahabat lainnya.

Maka kita sepatutnya mengikuti perjuangan mereka dalam menyebarkan ajaran Islam. Banyak cara yang bisa kita lakukan saat ini, salah satunya dengan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan mengamalkannya demi tersebarnya ilmu tersebut dan demi perkembangan intelektual masyarakat yang ada di sekeliling kita. Jika dulu berdakwah atau mempejuangkan panji-panji Islam dengan pedang, maka saat ini kita memperjuangkan panji-panji mulia tersebut dengan qalam, atau tulisan-tulisan yang ilmiah dan positif.

  1. Masa Muda, Masa Produktif

Banyak literatur-literatur Islam yang menuliskan betapa pentingnya masa muda bagi seseorang.Masa muda seakan-akan menjadi kunci atau patokan kesuksesan seseorang, baik di dunia atau di akhirat.Hal tersebut tidak terlepas dari nasihat-nasihat para Ulama dahulu, bahkan Nabi pun di sebagian hadis beliau menyatakan pentingnya masa muda.Salah satunya, dari Ibnu ‘Abbas Ra., Rasulullah Saw.bersabda,, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, (1) waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu …” (HR. Al-Hakim).

Kita sepakat apa yang disabdakan Nabi adalah wahyu dari Allah, sebagamana firman-Nya dalam surat Al-Najm: 4-5, “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” Maka dari itu nasihat yang disabdakan Nabi tentang pentingnya masa muda, sejatinya merupakan perintah dari Allah kepada kita selaku hamba-Nya. Hadis tersebut mengajak kita untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan hidup kita ketika muda, karena apa yang kita lakukan pada masa muda berbeda dengan apa yang kita lakukan di masa tua nanti, khususnya dari segi kekuatan fisik dan apa yang kita peroleh di masa tua adalah apa yang kita siapkan ketika di masa muda.

Oleh karena itu, para Ulama pun berpendapat bahwa barangsiapa yang menjaga diri ketika muda, maka Allah akan menjaga dirinya di masa tua. Artinya ketika kita bisa memanfaatkan masa muda kita dengan ibadah, kegiatan-kegiatan positif dan tidak melakukan keburukan atau kemaksiatan, maka Allah akan menjaga fisik dan rohani kita di masa tua. Seperti halnya Syeikh Al-Qadhi Abu Syuja’ yang terkenal dengan karangan-karangannya yang hingga saat ini masih dipelajari oleh para pelajar atau mahasiswa, khususnya tentang fikih mazhab Imam Syafi’i.

Dalam sebuah kitab disebutkan bahwa beliau termasuk ulama yang dikaruniai usia panjang, yaitu 160 tahun (433-569 H). Ia diangkat sebagai Qadhi semenjak umur 14 tahun dan ketika memasuki masa tua, ia terlihat segar bugar seperti pemuda-pemuda pada umumnya. Rahasianya pun bukan dengan rajin olahraga atau lainnya, tapi mengisi masa mudanya dengan ibadah.“Aku selalu menjaga anggota badanku dari maksiat kepada Allah di masa mudaku, maka Allah pun menjaga badanku di masa tuaku.”

Banyak hadis lain yang menjelaskan pentingnya masa muda, namun intinya kita tidak bisa hidup sempurna di masa tua, kecuali dengan memanfaatkan masa muda seoptimal dan semaksimal mungkin. Bahkan bukan hanya di masa tua saja, tetapi untuk menopang kehidupan di akhirat kelak. Maka Rasulullah Saw. mewanti-mewanti kepada kita dengan salah satu sabda beliau, “Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai Allah menanyakan empat hal: umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; masa mudanya, bagaimana dia menggunakannya; hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskan; dan ilmunya, apakah dia amalkan atau tidak.” (HR Tirmidzi).

  1. Pemuda Qur’ani yang Solutif

Di dunia akademis, banyak ilmuan sosial atau psikolog yang membagi macam-macam atau jenis pemuda.Pembagian mereka pun berbeda-beda, tergantung sudut pandang mereka masing-masing. Salah satunya entrepreneurmuda, Merry Riana yang berhasil mengumpulkan 1000 dolar Amerika dalam usia yang belum masuk ke angka 30. Pengusaha muda yang berhasil di Singapura ini, membagi pemuda menjadi empat jenis, yaitu pemuda pintar dan tidak peduli; pemuda peduli dan tidak pintar; pemuda tidak pintar dan tidak peduli; pemuda pintar dan peduli.

Pembagian Merry tersebut dilihat dari sudut pandang keilmuan dan kepedulian seorang pemuda terhadap lingkungan sekitar, khususnya bangsa mereka sendiri. Pembagian tersebut benar adanya dan pemuda Qur’ani pun akan termasuk karakter pemuda jenis terakhir tersebut. Di mana pemuda Qurani merupakan pemuda yang berkata, bertindak dan menentukan sebuah perkara dengan landasan al-Quran dan hadis Rasulullah Saw. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa al-Quran merupakan buku petunjuk yang akan selalu sesuai dengan tempat di mana pun, kapan pun, untuk siapa pun, khususnya dari kalangan pemuda.

Banyak ayat al-Quran yang ditafsirkan oleh kalangan Ulama Mufasir dan diambil kesimpulannya sebagai petunjuk dan nasihat bagi kalangan pemuda.Di dalam al-Quran pun terdapat kisah-kisah tentang pemuda yang bisa diteladani dan diambil pelajarannya.Ayat-ayat yang dimaksud diantarnya, pertama, QS. Yunus: 83. Allah berfirman, “Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka.Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi.Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.”Sebagian ulama menyimpulkan bahwa pemuda harus meneladani pemuda-pemuda terdahulu, khususnya yang beriman kepada Musa As. sebagaimana yang ada di dalam ayat tersebut. Pemuda harus memiliki keimanan, keteguhan hati, idealisme yang kokoh dan tak gentar oleh ancaman apa pun atau siapa pun apalagi di hadapan penguasa yang dzalim.

Kedua, QS. Yusuf: 36. Allah berfirman, “Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).”Ayat ini menunjukkan jati diri pemuda yang memiliki sense of curiosityatau rasa keingintahuan yang tinggi.Dengan sifat tersebut, pemuda cenderung banyak mencoba hal-hal yang dia anggap baru.Realita pun menjawab hal itu, ketika masyarakat sedang tren dengan sebuah hal baru, misalnya model pakaian, maka pemuda pun mengikuti dan memakai pakaian tersebut.

Namun perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud sense of curiositydi sini adalah rasa keingintahuan kepada hal yang positif, bukan lainnya, sehingga ia mencari, menguasai dan menularkan manfaatnya kepada orang lain dan lingkungan sekitar.

Ketiga, QS. Al-Kahfi: 10. Allah befirman, “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”Ayat ini secara tidak langsung menganjurkan agar para pemuda menjadi pribadi yang optimis, konsisten terhadap pekataan dan perbuatan, teguh dalam pendirian serta pantang menyerah.Bukan pemuda sejati yang masih tergiur dengan indahnya dunia dan masih lemah dalam menghadapi musuh utama, yaitu hawa nafsu.Apalagi di zaman modern sekarang, ujian bagi para pemuda semakin berat dan beragam.

Keempat, QS. Al-Anbiya: 60. Allah berfirman, “Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Ayat ini adalah sepotong kisah Nabi Ibrahim As. ketika patung-patung berhala sembahan masyarakat di lingkungannya hancur.Namun bukan kisah Nabi Ibrahim As. yang kita ambil, tetapi sikap Nabi Ibrahim As. sebagai pemuda lah yang kita perhatikan. Di mana Ia menunjukkan jati dirinya sebagai pemuda yang teguh dan kuat memperjuangkan akidahnya, tidak takut dengan apa yang terjadi dan selalu ingat bahwa Allah akan selalu menolongnya ketika tertimpa kesulitan.

Jika kita simpulkan, maka pemuda Qur’ani merupakan pemuda yang sangat diidam-idamkan oleh seluruh masyarakat, di mana dengan jati diri yang berlandaskan al-Quran, ia akan menjadi suri teladan untuk pemuda-pemuda lainnya, solusi untuk semua permasalahan sosial dan pembawa perubahan untuk bangsa dan agama ke arah yang lebih baik lagi.

E. Rekontruksi Moral Pemuda

Dewasa ini banyak realita yang menggambaran kenakalan dan keburukan moral pemuda.Pekelahian, penjambretan, bahkan pembunuhan banyak didalangi oleh kalangan pemuda.Apalagi di zaman modern yang bisa dikatakan “serba mudah didapat.”Teknologi canggih bisa membuat komunikasi dan akses data semakin mudah, sehingga jarak dan waktu kini tidak menjadi hambatan lagi dan para pemuda pun semakin bebas berekspresi.Padahal pemuda merupakan aset paling berharga yang dimiliki suatu bangsa, termasuk Indonesia.

Syeikh ‘Abdul Aziz bin Baz pernah berargumen dalam salah satu tulisannya, bahwa para musuh Islam telah melirik potensi berharga tersebut, sehingga dengan cara apa pun, mereka berupaya untuk merusak jati diri pemuda, khususnya moral mereka. Sebagaimana yang kita saksikan, hingga saat ini salah satu upaya mereka adalah dengan menggunakan “4 F,” yaitu food, fashion, fun dan film. Banyak dari kalangan pemuda Indonesia terjerumus ke dalam jebakan tersebut, bahkan memuja-mujanya.

Pertanyaannya, apakah hal buruk ini akan terus dibiarkan? Tentu saja tidak.Harus ada sebuah gebrakan untuk merubah hal-hal buruk tersebut. Dan perubahan yang diharapkan tersebut tidak akan mungkin terjadi, kecuali ada yang mengawali. Maka pemuda Qurani lah yang diharapkan akan menjadi pelopor utama, penggebrak di garda paling depan dalam menyeru pemuda-pemuda lainnya agar mereka terbangun dari kelalaian yang menimpa mereka.

Secara umum ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengubah mindset dan prilaku para pemuda dewasa ini, di antaranya:

  1. Inspirasi

Inspirasi yang dimaksud di sini adalah tokoh yang diidolakan atau bisa dikatakan panutan yang segala gerak-geriknya diikuti, dari mulai bagaimana ia berucap hingga bagaimana ia berjalan. Terlalu berlebihan mungkin, namun jika tokoh yang diidolakannya merupakan tokoh inspratif dan positif, maka ia akan terbawa ke jalan yang baik dan energi positif yang dimiliki tokoh tersebut bisa tertular kepadanya, seperti halnya mengidolakan Nabi Muhammad Saw. Ketika kita bisa menjadikan beliau sebagai panutan, niscaya setiap detik dan helaan nafas kita merupakan ibadah.

Namun pemuda zaman sekarang berbeda, mungkin bisa dikatakan miskin idola.Hanya sedikit dari mereka yang mempunyai idola yang mampu memberikan kebaikan terhadap kehidupannya. Banyak dari mereka yang mengidolakan seseorang tanpa melihat lata belakang atau manfaat yang akan didapat, sehingga ketika yang diidolakan tersebut melakukan keburukan, maka pemuda pun tetap mengikutinya, bahkan membelanya. Dari sini lah muncul paham fanatisme.

Di dalam ilmu dakwah, salah satu cara terbaik dalam berdakwah yaitu dengan qudwah hasanah atau teladan yang baik. Banyak orang, khususnya pemuda tidak terlalu mengamini nasihat atau pelajaran yang diucapkan dari lisan. Selain perilaku mereka yang cenderung tidak mau diatur, juga terkadang mereka kecewa karena apa yang diucapkan oleh seorang Ustadz misalnya, tidak selaras dengan apa yang dikerjakan oleh Ustadz tersebut. Hal ini menimbulkan feedback negatif tersendiri bagi para pemuda dan membuat mereka semakin menolak terhadap ajakan kebaikan tersebut. Beda halnya dengan qudwah hasanah yang akan memberi efek positif dan lebih menyentuh. Hal tersebut karena perilaku lebih jujur dan lebih mampu dipahami serta dipercaya oleh masyarakat, khususnya para pemuda.Oleh karena itu pemuda butuh tokoh atau idola yang mampu diteladaninya, sehingga membimbingnya ke arah yang lebih baik.

Indonesia merupakan salah satu bangsa yang memiliki banyak tokoh yang patut diteladani. Contohnya Budi Utomo, Ir. Soekarno, BJ. Habibie, KH. Zainuddin MZ dan lain sebagainya. Jika seluruh pemuda mampu meneladani salah satu tokoh yang dimiliki Indonesia, maka Indonesia tidak akan mengalami kesulitan di masa depan, karena akan selalu ada regenerasi pada tokoh-tokoh tersebut.

  1. Motivasi

Salah satu motor penggerak seseorang bisa lebih maju dalam segala aspek yaitu adanya motivasi atau nasihat yang menopang dan mendukung setiap langkah yang ia ambil. Ketika seseorang sudah tidak ada yang memotivasi, maka dinamika yang dilakukannya akan tersendat, bahkan berhenti. Oleh karena itu, motivasi positif dan membangun sangat diperlukan, khususnya dari orang tua atau pun sesama pemuda.

Allah sendiri telah mewasiatkan kepada kita di dalam al-Quran agar kita saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Hal positif tersebut tidak akan pernah terjadi, kecuali dengan adanya interaksi. Begitu pula interaksi, tidak akan pernah ada, kecuali kita telah saling mengenal dan berhubungan dengan satu sama lain atau silaturahmi. Salah satu sabda Nabi yang kita bisa manfaatkan agar silaturahmi terus terjaga, yaitu, “Saling memberi hadiah lah kalian, maka kalian akan saling menyayangi.”

Terlebih dewasa ini, banyak pemuda yang terpuruk di dalam kehidupannya.Kita sebagai pemuda yang paham makna kehidupan, khususnya pemuda Qur’ani harus mampu merangkul mereka, memperbaiki mindset mereka, memberi mereka secercah harapan dengan motivasi-motivasi yang positif dan membangun.

  1. Kedewasaan

Banyak pemuda saat ini yang mengaku dewasa, namun perilaku dan mindset-nya masih seperti anak kecil.Perlu digaris bawahi, kedewasaan merupakan sebuah sikap seseorang yang telah mampu membedakan antara kebenaran dan keburukan, mampu menggunakan hati dan akal sehat dalam menutuskan sebuah perkara serta mampu membimbing dirinya agar tetap pada rel yang semesetinya atau mandiri.

Tidak bisa disebut pemuda dewasa, jika ia masih tidak bisa hormat kepada orang tua dan gurunya, masih tidak bisa menyayangi saudara dan teman sejawatnya, masih belum berkontribusi positif terhadap lingkungan di sekitarnya. Juga tidak dibenarkan seseorang berusia 19 tahun mengaku dewasa, tapi peilakunya seperti anak kecil berusia 10 tahun, karena kedewasaan bukan diukur oleh usia.

Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan seseorang yang masih berumur belia tetapi ia sudah dewasa, karena kedewasaan bukan hanya milik orang tua saja. Seperti Ali bin Abi Thalib Ra., meski masih belia, tetapi dengan pola pikirnya yang matang, maka Ia termasuk orang-orang pertama yang memeluk ajaran Islam.

  1. Komunitas

Semua orang sepakat bahwa setiap individu di dunia ini memerlukan sebuah wadah atau komunitas untuk mengekspresikan apa yang diinginkan, mengembangkan apa yang dikuasai, menularkan atau mengamalkan apa yang diketahui. Seorang guru bisa menjadikan lingkungan sekolah sebagai komunitas di mana Ia mampu mengembangkan metode pengajarannya; Seorang dokter membutuhkan rumah sakit sebagai komunitasnya agar apa yang Ia kuasai bisa diamalkan dan manfaatnya bisa dirasakan oleh para pasien; Seorang penulis membutuhkan sebuah komunitas yang di dalamnya, Ia mampu mengembangkan gaya penulisannya; dan banyak lagi.

Begitu pun pemuda, Ia harus mencari komunitas dengan kegiatan yang positif dan cocok dengan dirinya, sehingga mampu mengasah pola pikirnya, mengasah rasa kepeduliannya dan membuatnya semakin kritis –dalam hal positif. Tentunya sangat banyak komunitas yang tersebar di masyarakat, tergantung visi dan misi mereka masing-masing, seperti komunitas penulis, komunitas pendaki gunung, komunitas jurnalis dan jenis komunitas lainnya.

Namun yang jelas, harus sesuai dengan minat dan bakat. Jika seorang pemuda sudah memilih komunitasnya sesuai dengan minat dan bakat, maka kegiatan apa pun dan bagaimana pun akan ia laksanakan dengan senang hati. Jika di tengah-tengah ada kendala, maka ia tidak akan merasa tertekan, tetapi termotivasi untuk menyelesaikannya. Seperti nasihat Paman Sam, do what you love, love what you do.

Salah satu aktifis Mahasiswa Indonesia di Mesir berpendapat bahwa sebuah komunitas atau organisasi sangat penting bagi para pemuda, karena mampu mengasah retorika dalam menyampaikan pendapat; melatih kesabaran dan besarnya hati ketika pedapatnya bersebrangan dengan pendapat orang lain atau ketika ditolak; mempertajam daya kritis dan kepekaan sosial.

F. Penutup

Masa muda merupakan pos terpenting atau masa emas bagi siapapun untuk mempersiapkan hal-hal terbaik yang akan dinikmaati di masa tua kelak. Masa muda mejadi patokan, apakah di hari tua nanti bahagia atau sengsara. Maka dari itu, diskusi tentang pentingnya masa muda sangat penting dan harus digalakan secara berkala, terlebih bagi pemuda yang di mana moral sebagian mereka semakin kusut dan  jauh dari nilai dan norma kemasyarakatan dan keagamaan.

Apalagi di era globalisasi seperti ini.Beragam alat komunikasi modern membuat para pemuda semakin bebas mengakses data, seperti internet, handphone, televisi dan lain sebagainya.Sehingga beragam budaya dan hiburan di seluruh dunia pun, mampu mereka nikmati. Pada akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi karakter dan pola pikir mereka secara keseluruhan.

Hal di atas tentunya tidak bisa dibiarkan. Masyarakat harus paham dengan problematika yang dialami para pemuda, khususnya karena di usia muda tersebut merupakan masa pencarian jati diri, sehingga harus ada metode pendekatan interpersonal yang tepat. Mereka perlu arahan dan bimbingan yang bersifat konstruktif-familiar (membangun secara kekeluargaan) dan tidak dengan otoritatif-dogmatif (memaksa dan kaku).Adapun pihak yang mampu melakukan pendekatan tersebut, salah satunya dari kalangan pemuda itu sendiri. Artinya, pemuda cenderung akan mendengarkan teman sejawat atau seumurannya, terlebih mereka pun saling memahami satu sama lain terhadap apa yang dibutuhkan oleh mereka.

Di sini lah pemuda Qur’ani memiliki andil lebih besar dalam membawa perubahan. Dengan akhlak yang berlandaskan al-Quran, pemuda Qur’ani akan mengerti bagaimana menyelesaikan problematika yang dialami oleh para pemuda lainnya. Dengan mempertimbangkan beberapa poin yang sudah dipaparkan di atas, pemuda Qur’ani memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pelopor utama dalam membawa perubahan ke arah yang lebih baik, khususnya moral para pemuda dan pada umumnya moral masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, pembangunan moral dan mindset pemuda lebih peting dari pembangunan jembatan, jalan raya, sektor industri, gedung pencakar langit, bahkan jauh lebih penting dari pembangunan perekonomian.Hal itu semua tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan sirnanya moral para pemuda. Semoga para pemuda mampu menjadikan al-Quran sebagai landasan berfikir dan bertindak, sehingga menjadi teladan bagi sesamanya dan pada akhirnya mampu menjadi satu dari sepuluh pemuda yang akan menggoncangkan dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 20, 2014 by in Tarian Jariku and tagged , , , , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: